Orang yang tidak beriman adalah mereka yang
tidak mengenali tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, sebaliknya, ciri
menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan
bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan
tidak dengan sia-sia. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada
penyerahan diri kepadaNya. Allah berfirman :
الذين يذكرون الله قيما وقعودا وعلى
جنوبهم ويتفكرون فى خلق السموت والارض ربناماخلقت هذا بطلا سبحنك عذاب النلر
"…orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imraan, 3:191)
Dan
Allah juga berfirman :
ينبت لكم به الزرع والزيتون والنخيل
والاعنب ومن كل الثمرت ان فى ذلك لأية لقوم يتفكرون
"Dia menumbuhkan bagi
kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam
buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan." (QS. An- Nahl, 16:11)
Marilah kita berfikir sejenak
tentang Pohon jati. Sebagaimana diketahui, pohon jati yang biasa dipakai
sebagai bahan baku mebel atau rumah kita tumbuh dari sebutir biji di dalam
tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter
kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 5 -8 meter bahkan lebih
dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat
digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon
besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.
Bagaimanakah sebutir biji
mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk
menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk
pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan
dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab
pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu
gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk
menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut
zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna.
Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar
sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat
wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di
dalam tanah.
Pengkajian ini menyimpulkan
bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius
daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam
apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut?
Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?
Tak diragukan lagi,
pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat
yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut
telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini
ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak
terbatas. Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai
tumbuh-tumbuhan baru.
Biji hanyalah satu dari
banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika
manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan
hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan
"mengapa" dan "bagaimana", maka mereka akan sampai pada
pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan
Allah SWT.
Dikutip dari buku “Brfikir sejak bangun tidur”
Harun Yahya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar